Kebetulan di Jakarta Timur sedang musim balapan liar dengan spek seher diameter 58,5 mm. “Tapi, klepnya boleh diganti,” jelas Daryanto, mekanik dari bengkel 14 Low Profil (LP) di Perumahan Eramas 2000, Jakarta Timur. Dia yang mengobok-obok Mio milik Alfan yang biasa dipanggil Bedegong itu.
“Untuk pekerjaan awal, mengganti piston asli dengan seher Honda GL-Pro Neo Tech. Diameternya dipilih yang berukuran 58,5 mm,” bilang Daryanto, mekanik yang berkulit sawo matang itu.
Piston kepunyaan GL-Pro Neo Tech memang jadul banget. Desainnya sangat tinggi. Kalau kepala sehernya tidak dipapas akan nongol jika dipasang di blok Yamaha Mio.
Untuk itu permukaan atas seher dipotong. “Sekalian dibuatkan alur klep supaya tidak bertabrakan antara katup dengan piston,” jelas Daryanto yang senang ikut balap matic itu.
Selain papas bagian atas seher, pantat piston juga dipotong. Supaya tidak mentok kruk as ketika seher posisinya menuju TMB (Titik Mati Bawah).
Supaya aman, pantat seher yang dipapas mengikuti ukuran asli seher Mio. Sekalian dihaluskan bekas potongan pisau bubutnya. Supaya tak bikin baret liner.
Karena kapasitas silinder sudah besar, suplai gas bakar harus dibesarkan. Untuk turun di kelas 58-nan, bisa menggunakan klep isap 28 mm dan buang 24 mm. Diambil dari klep EE yang aslinya 31/25 mm itu. Untuk itu harus dikecilkan supaya sesuai keinginan.
Selain ganti klep, sudah tentu squish disesuaikan. “Dibikin mengikuti diameter seher. Supaya piston tidak mentok dan menghasilkan kompresi yang tidak terlalu tinggi,” bilang Daryanto
Sekarang giliran mengoptimalkan pasokan campuran gas ke ruang bakar sesuai spek standaran. Caranya, tetap mengadopsi karburator orisinil namun diakali supaya lebih maksimal. Yang penting masih tetap pakai karbu asli walau dalamnya sudah diobok-obok.
Untuk mengatur proses pemasukan antara campuran bahan bakar dengan udara, buka tutup klep dimaksimalkan. Daryanto pilih menggunakan kem Mio Kawahara K3 yang diseting lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar